Halo, apa kabar?
Wah… ternyata sudah lama sekali aku nggak menulis di blog ini. Dan lucunya, saat kembali ke sini, rasanya aku masih jadi diri yang sama. Masih dengan segala overthinking, rasa takut, dan isi kepala yang berantakan. Hahaha.
Tapi satu hal yang kusadari, aku masih bertahan sampai hari ini. Dan untuk itu, aku bangga pada diriku sendiri.
Meski berkali-kali dihantam banyak hal yang bahkan sulit untuk kusebut namanya, nyatanya aku masih ada di sini. Masih mencoba hidup, masih belajar kuat, dan masih berjalan meski pelan.
Aku masih sendiri.
Masih berada di fase penantian yang entah akan berakhir kapan.
Usiaku kini 32 tahun. Jujur, dulu aku tidak pernah membayangkan akan berada di titik ini — masih lajang, di usia yang tak lagi bisa disebut muda belia. Kadang aku berpikir, mungkin diriku yang berusia 20 tahun akan terkejut melihat hidupku yang sekarang. Atau bahkan merasa sedih.
Maaf ya, untuk diriku yang berusia 20-an.
Ternyata aku belum bisa menjadi sosok yang dulu kamu bayangkan dengan penuh harapan.
Hidup berjalan jauh berbeda dari rencana. Banyak hal yang gagal, banyak doa yang masih menggantung di langit, dan banyak perasaan yang terpaksa kupeluk sendirian.
Tapi percayalah, aku sudah berusaha sejauh ini. Aku jatuh berkali-kali, lelah berkali-kali, bahkan pernah merasa ingin menyerah. Namun sampai hari ini aku masih tetap hidup, masih mencoba menjadi manusia yang baik, dan masih berusaha berjalan meski terseok-seok.
Jadi… maaf karena belum bisa menjadi versi sempurna yang dulu kamu impikan.
Tapi terima kasih, karena dulu kamu pernah bermimpi sejauh itu untuk kita.
Kadang aku ingin menyerah.
Lelah rasanya menjadi kuat terus-menerus di dunia yang tidak selalu ramah.
Tapi nyatanya aku masih di sini.
Mungkin karena aku terlalu pengecut untuk mengakhiri semuanya, atau mungkin… jauh di dalam hati, aku masih takut pada kehidupan setelah kematian.
Dan anehnya, ketakutan itu justru membuatku bertahan.
Jadi setiap hari aku tetap bangun, tetap menjalani hidup meski tertatih, tetap mencoba tersenyum walau sering terasa kosong. Karena ternyata, bertahan hidup sejauh ini pun sudah menjadi bentuk keberanian yang tidak kecil.
Rasanya capek juga ya…
Sakit hati karena omongan orang, belum lagi harus berdamai dengan sakit fisik yang datang satu per satu.
Entah sejak masuk usia 30-an, tubuh rasanya mulai sering protes. Pinggang sakit, kepala nyut-nyutan, mual tanpa sebab, alergi yang tiba-tiba kambuh. Badan lelah, hati juga ikut lelah.
Dan di tengah semua itu, masih saja ada orang yang dengan mudah melontarkan kata-kata seperti ‘perawan tua’, seolah hidup seseorang boleh diukur hanya dari statusnya.
Padahal mereka tidak tahu seberapa keras seseorang berusaha bertahan setiap harinya.
Jadi untuk diriku sendiri…
sehat-sehat ya. Tolong bertahan sedikit lebih lama lagi. Meski dunia kadang terlalu berisik, semoga hatiku tetap punya tempat untuk pulang dan tenang.

Komentar
Posting Komentar