keluh kesah di masa pandemi

    Tidak terasa sudah bulan agustus saja, perasaan baru saja kemarin kita semua euphoria merayakan  tahun baru, di mulai akhir bulan maret atau  awal april gitu , semua kegiatan mulai di lakukan dirumah saja, memang ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa di lakukan di rumah,  contohnya yang pekerjaannya di bidang transportasi, agak sulit juga kan ya, bahkan saya mendengar sendiri cerita dari supir bis bandung-jakarta, saat mulai masa PSBB pendapatan mereka berkurang, bahkan ada beberapa yang tidak bekerja juga, saya mendengar sendiri si bapak supir sampai menjual hape nya buat makan sehari-hari, begitupun saya,kebetulan saya ini  bekerja di bidang pendidikan, saya mengajar dari rumah pakai video call, jujur hal tersebut kurang efektif, ada beberapa siswa yang enggan melakukan video call, alasanya malas, malu dll

    Saya  bekerja pada lembaga pendidikan swasta, tidak di naungi oleh pemerintah dan saat seperti ini jujur menyulitkan kami, pertama di masa pandemi ini anak-anak harus belajar di rumah, materi kami berikan berupa modul dan juga pertemuan virtual melalui video call whatsapp, hanya tidak jarang kebanyakan orang tua merasa rugi akan hal itu, di karenakan : Mereka merasa keberatan karena tetap saja mereka yang mengajar anak akan tetapi spp harus mereka bayar full, lalu kuota tidak di tanggung oleh sekolah, jadi mereka ( para orang tua) meminta potongan dari kami

Satu sisi, sekali lagi saya ( kami ) yang bekerja di lembaga swasta harus tetap

1.       Membayar gaji guru dan staff full

2.       Membayar sewa gedung full

3.       Membeli kebutuhan modul dan kuota

Saya sendiri sebenarnya merasa kasihan pada para orang tua tapi satu sisi kami juga kasihan pada staff kami, dan kami pun membutuhkannya juga, ini  bagai buah simalakama

Sekarang sudah bulan ke 8, bulan agustus, harusnya pada bulan ini terjadi peningkatan jumlah murid, karna saat ini adalah masa-masa tahun ajaran baru yang mana kita harusnya menerima siswa baru, akan tetapi sejak bulan juni hanya da beberapa yang mendaftar tapi selanjutnya keluar lagi karna tidak nyaman dengan cara pengajaran kami yang baru, karna sesuai dengan aturan pemerintah bahwa sekolah pendidikan usia dini belum boleh untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, siswa kami jadi sangat sedikit sekali kami kehilangan murid sekitar 90% dari jumlah murid sebelumnya yang otomatis, pendapatan kami berkurang tetapi kami harus tetap membayar uang sewa, gaji, listrik air dll,

saya merasa berterimakasih kepada orang tua yang masih mau bertahan di sekolah kami walau keadaan tidak kondusif, dan saya rasa yang mengalami hal seperti ini bukan saya saja, sepertinya banyak yang lebih menderita di banding saya karna mungkin ada orang-orang di sana yang kehilangan pekerjaan, saya doakan rezeki kalian selalu mengalir di situasi seperti ini dan juga kalian yang kehilangan pekerjaan segera mendapatkan pekerjaan kembali

lalu kalau sudah begini bagaimana? Harus menyalahkan siapa? jawabannya

Tidak ada

Mungkin kita sekarang  semua manusia di bumi ini sedang di uji oleh tuhan, tuhan sedang memperlihatkan kekuasaannya

Yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan semuanya, supaya kita semua kembali normal adalah di melakukan protokol kesehatan yang di sarankan oleh pemerintah dan WHO, tidak susah-susah kok karna bukan menyuruh kita membuat penelitian atau karya tulis ilmiah berlembar-lembar, yang di sarankan sangat sederhana dan saya yakin kalian semua bisa melakukannya

1.       Jangan lupa untuk mencuci tangan

2.       Menjaga jarak

3.       Memakai masker

4.       Hindari keramaian

5.       Membawa hand sanitizer

6.       Membawa tissu basah dan kering

7.       Keluar rumah jika benar-benar perlu

8.       Jangan dulu nongkrong/ kumpul-kumpul

oh iya ayah saya pun baru saja di PHK karena situasi ini, belum lagi keluarga kami mempunyai hutang pada bank, entah bagaimana nanti kami melunasinya, doakan rezeki kami selalu ada meskipun pada situasi sulit seperti ini, Mari kita saling mendoakan yang terbaik supaya situasi kembali menjadi normal

 


luv

heavendelight

Komentar